Senin, 01 Oktober 2018

Introspeksi Diri | Mutiara Kata

Mutiara Kata | Introspeksi Diri

Introspeksi Diri | Mutiara Kata
Assalamu'alaikum wr
"Kesalahan dirimu lebih harus kamu fikirkan dan perbaiki. Sebab kamu tidak akan ditanyai tentang kesalahan yang dilakukan orang lain di Mahkamah Agung-Nya". AS
Tulisan sejuk kali ini membahas sebuah ungkapan yang populer mengatakan:
الإنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَأ وَالنِّسْيَانِ
"Manusia itu tempat kesalahan dan lupa"
Jika difikirkan secara mendalam, memang benar demikian adanya. Manusia biasa seperti kita tidak pernah luput dari kesalahan, dosa dan lupa. Demikian karakter / tabi'at asli manusia secara umum sesuai pepatah Rosulullah SAW:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ
"Semua anak Adam (manusia) itu pendosa"
Ingat!, pokok pembicaraan kedua ungkapan itu adalah manusia 'secara umum', termasuk penulis juga di dalamnya. Karena secara khusus, ada orang-orang yang memang dijaga (ma'shum) oleh Allah dari melakukan kesalahan.
Meski demikian, kedua ungkapan itu tidak bisa digunakan seenaknya untuk "membela diri". Iya, umpamanya:
Guru: Kenapa kamu tidak mengerjakan PR?
Murid: Lupa, Pa!
Guru: Kamu ini bagaimana, PR kok tidak dikerjakan!
Murid: Habis gimana lagi pa. Kan الإنْسان محل الحطأ والنسيان?
Guru: ????????
Ilustrasi singkat itu hanya sebuah contoh penerapan 'ucapan benar' (حَقٌّ) tapi yang dimaksud bukan itu, melainkan hanya membela kemalasan diri (بَاطِلٌ). Praktek semacam ini tidak dibolehkan dalam agama. Termasuk trik syaitan yang dikenal dengan istilah:
قَوْلُ الْحَقِّ أُرِيْدَ بِهِ الْبَاطِلُ
"Ungkapan kebenaran, tapi yang dimaksud adalah kebathilan"
atau:
تَرْوِيْجُ الشَّرِّ فِي مَعْرَضِ الْخَيْرِ
"Menyuguhkan kejelekan dalam hidangan kebaikan"
Gambarannya seperti tadi. Intinya, menggunakan ayat/hadits digunakan untuk menutupi maksud jelek kita yang terselubung. Hal ini pula, bukan sesuatu yang diperintahkan. Karena perintahnya adalah: mengukur amal dengan dalil, bukan menggunakan dalil untuk mendukung amal. 
Sekali lagi, kedua dalil hadits tersebut mengenai sebagian karakter manusia secara umum yaitu pendosa dan pelupa. Namun, ingat pula satu hal, bahwa di antara ibadah adalah justru menghapus kesalahan-kesalahan dan berupaya untuk tidak melakukan kesalahan itu.
Berkenaan dengan 'quote' di atas, tulisan ini diharapkan menjadi penyejuk dan kesejukan bagi pembaca semuanya, bahwa: secara umum, memang manusia adalah pendosa, dalam artian semua orang yang tidak dima'shum oleh-Nya pasti sedikit-banyak memiliki kesalahan dan dosa. Justru, dengan adanya kesalahan dan dosa itu kita diperintahkan untuk menghapus kesalahan itu. Bahkan, Rosul SAW mengapresiasi pendosa itu sendiri dengan lanjutan ungkapan beliau:
وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ
"dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat"
Juga ungkapan beliau:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
"Orang yang bertaubat dari dosa, seakan dia orang yang tidak punya dosa"
 Apalagi sebuah kata mutiara Rosul SAW berikut:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Orang yang menutupi aib (kecacatan, kesalahan, dosa, kekurangan dan hal memalukan lainnya) seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunya dan akhirat"
Bayangkan betapa hebatnya hal itu jika kita berhasil melakukan semuanya; berupaya menghapus kesalahan-kesalahan dan menutupi kesalahan orang lain. Sungguh tinggilah derajat kita jika seperti itu. 
Kenapa orang yang menutupi aib orang lain sangat 'diapresiasi' oleh Allah?
Hal itu karena:
إنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ، يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسِّتْرَ
"Sesungguhnya Allah itu 'pemalu' dan 'penutup', Dia mencintai rasa malu dan menutupi (aib)"
Jadi, orang yang malu dan bertaubat setelah melakukan kesalahan, bahkan menutupi aib, kesalahan orang lain adalah termasuk orang yang dicintai Allah.
Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih memikirkan dan merasa malu atas kesalahan yang kita lakukan sambil berusaha menutupinya dengan kebaikan-kebaikan, daripada memikirkan, mengumbar kesalahan apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, kita tidak akan ditanyai tentang kesalahan yang dilakukan orang lain di Pengadilan Allah nanti di akhirat. Sebagaimana firman-Nya:
 أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (النجم: 38)
"(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain"
Dan juga firman Allah dalam Q.S. Al-Baqoroh ayat 141:
  تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ 
"Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan"
Adapun jika kita melihat orang lain berbuat salah di tempat dia berbuat salah, kita tetap harus ada kepedulian untuk mengubahnya. Caranya, bukan dibicarakan dan disebarluaskan kepada orang lain yang tidak melihat, tapi kitalah yang melihatnya langsung yang harus mengingatkan orang itu. Jika memang kita mampu. Jika tidak, minimal hati kita tidak menyetujui perbuatan salah yang orang itu lakukan. Itulah selemah-lemahnya keimanan. Sebab, jika kita melihat orang lain berbuat salah/dosa, lalu kita sebarkan, jangan-jangan dosa kita justru lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan orang itu.
Nah, mari kita sama-sama menjadi muslim penyebar kebaikan, menjadi muslim yang bukan hanya casing agar kita mampu merepresentasikan islam yang memang rohmatan lil 'aalamiin (kasih-sayang pada seluruh alam). Tapi jangan lupa 'bercermin'; barangkali masih banyak kesalahan yang kita lakukan, masih banyak melukai orang lain sekalipun ibadah kita tidak berhenti, masih banyak yang harus kita perbaiki disamping kita berusaha sekuat tenaga yang dianugerahkan-Nya untuk menutupi aib orang lain. 
Semoga bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih dan mohon ma'af
Wassalamu'alaikum wr. wb.

0 komentar

Posting Komentar