Senin, 27 Agustus 2018

Mukmin | Muslim Itu Bersaudara

Mukmin Atau Muslim Adalah Saudara

Kajian Bahasa Dan Pendalaman Q.S. Al-Hujurat: 10-13


Assalamu'alaikum Wr.
Saudaraku sesama muslim dan non-muslim setanah air. Semoga Tuhan memberkati kehidupan kita dan membimbing kita untuk sampai kepada-Nya
Dalam artikel ini akan dibahas secara bahasa mengenai mukmin dan muslim, mengenai realitas bahwa muslim adalah saudara, juga pendalaman tentang ayat al-Qur'an surat al-Hujurat dari ayat 10 s.d. ayat 13. Semoga kita semua dapat merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam berinteraksi dengan sesama muslim yang memang saudara, maupun berinteraksi dengan saudara kita sebangsa-setanah air, juga dalam interaksi kita dengan saudara kita sebagai sesama makhluk yang diciptakan Tuhan yang Maha Esa.

Mukmin | Muslim Itu Bersaudara

Pengertian Kata Mukmin dan Muslim

1. Pengertian Kata Mukmin

Saya percaya, sebagian besar pembaca telah mengenal tentang kata kerja dasar dan kata kerja berimbuhan. Dalam tata bahasa Arab, hal ini mungkin sama dengan fi'il mujarrod dan fi'il mazid fiih. Fi'il mujarrod bisa berarti kata kerja dasar dan fi'il mazid fiih bisa berarti kata kerja berimbuhan. Karena kata 'mukmin' itu sendiri berasal dari Bahasa Arab. Dengan kata lain, 'mukmin' adalah kata serapan dari Bahasa Arab. Oleh karena itu, saya akan mencoba menjelaskan makna kata 'mukmin' itu dari sudut pandang Bahasa Arab yang memang merupakan asal serapan kata mukmin itu sendiri.
Kata mukmin adalah merupakan isim fa'il dari fi'il tsulatsi mazid fiih (kata kerja berimbuhan):
آمَنَ يُؤْمِنُ إيْمَانًا وَمُؤْمَنًا فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَذَاكَ مُؤْمَنٌ آمِنْ لاَ تُؤْمِنْ مُؤْمَنٌ مُؤْمَنٌ
yang mana fi'il tsulatsi mujarrodnya (kata kerja dasar) adalah:
أَمِنَ يَأْمَنُ أَمْنًا وَمَأْمَنًا فَهُوَ آمِنٌ وَذَاكَ مَأْمُوْنٌ اِيْمَنْ لاَ تَأْمَنْ مَأْمَنٌ مَأْمَنٌ
Kata kerja أَمِنَ artinya adalah "telah aman", isim fa'ilnya yaitu kata آمِنٌ artinya "orang yang aman". Sedangkan jika dimasukkan pada wazan أَفْعَلَ menjadi آمَنَ maka secara bahasa berarti "telah memberi keamanan (rasa aman)", isim fa'ilnya yaitu kata مُؤْمِنٌ artinya "orang yang memberi rasa aman". Lho bukankah kata mukmin itu artinya adalah "orang beriman"?. Memang benar, tapi perlu diingat, bahwa dalam bahasa arab suatu kata bisa berubah maknanya sesuai konteksnya. Misal kata ضَرَبَ artinya bisa berubah-ubah menjadi "memukul", "membuat", "mendarat" atau yang lainnya. Dalam kamus Mu'jam al-Wasith, arti kata آمَنَ itu artinya berbeda-beda, berikut uraiannya:
a. صَارَ ذَا أَمْنٍ
Kata آمَنَ bisa berarti "menjadi aman". Berarti arti kata mukmin adalah "orang yang menjadi aman"
b. وَثِقَ وَ صَدَّقَهُ
Kata آمَنَ berarti "percaya/beriman" dan "membenarkan" dengan syarat, setelah kata آمَنَ itu ada kata بِ. Seperti dalam ayat:
كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
"Semuanya (Rasul dan orang-orang mukmin) telah mempercayai (beriman) kepada Allah, para malak, kitab-kitab dan rosul-rosul Allah"
Maka, isim fa'ilnya yaitu kata مُؤْمِنٌ artinya "orang yang beriman, percaya dan yang membenarkan". Sedangkan arti ketiga:
c. جَعَلَهُ يَأْمَنُ
Kata آمَنَ berarti "menjadikan seseorang merasa aman". Seperti dalam ayat:
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
"Ialah Dzat yang memberi  mereka makan dari rasa lapar dan memberikan mereka rasa aman dari ketakutan"
Berarti isim fa'ilnya yaitu kata مُؤْمِنٌ artinya "orang yang memberi rasa aman". Inilah yang nanti kita bahas pula dalam pendalaman makna surat al-Hujurat ayat 10-13

2. Pengertian Kata Muslim

Seperti kata آمَنَ, kata مُسْلِمٌ juga merupakan kata kerja berimbuhan atau fi'il tsulatsi maziid dari kata سَلِمَ yang artinya "selamat/terlepas", isim fa'ilnya adalah kata سَالِمٌ yang artinya "orang yang selamat" lalu dimasukkan pada wazan أَفْعَلَ menjadi:
أَسْلَمَ يُسْلِمُ إِسْلَامًا وَمُسْلَمًا فَهُوَ مُسْلِمٌ وَذَاكَ مُسْلَمٌ أَسْلِمْ لاَ تُسْلِمْ مُسْلَمٌ مُسْلَمٌ
artinya, menurut Mu'jam al-Wasith adalah: "ta'at, memurnikan, memberikan keselamatanmasuk ke dalam agama islam, menyerahkan dan meninggalkan".
Itulah pengertian kata Mukmin dan Muslim secara bahasa. Jadi, jika ditinjau secara bahasa, Mukmin adalah "orang beriman, orang yang memberi rasa aman (pada orang lain)". Sedangkan kata Muslim artinya berarti "orang yang tunduk patuh pada aturan agama Islam". 
Karena itu, jika seseorang menyatakan "beriman", tapi meresahkan orang lain, apakah dia itu benar-benar mukmin?
Dalam Hadits, Rosul SAW bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (متفق عليه)
"Seseorang diantara kalian tidaklah beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri"
Maksudnya, seseorang tidak beriman sehingga dia memperlakukan orang lain sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Jika ia menyenangi sesuatu, maka dia akan memperlakukannya untuk saudaranya. Jika dia membenci sesuatu, maka dia akan berusaha untuk tidak memberikannya pada orang lain terlebih saudaranya; Jika dia merasa senang dipuji, maka demikian pula dia akan memuji orang lain, terlebih saudaranya. Jika dia tidak senang dicela, maka diapun berusaha untuk tidak mencela saudaranya sebagaimana dia pun membencinya. Demikianlah apabila berkaitan segala aspek dalam kehidupan ini. Seyogianya seseorang yang mengaku beriman berbuat demikian.
Demikian pula seseorang yang mengaku "islam" tapi selalu membuat orang lain celaka, apakah dia benar-benar muslim?
Rosul SAW bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 
"Muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya"
Maksudnya, seseorang dikatakan sebagai 'Muslim' jika orang lain selamat dari perbuatan yang dilakukan oleh tangannya dan ucapan yang keluar disebabkan lisannya. Oleh karena itu, seyogianyalah seorang yang mengaku islam untuk menjaga segala perbuatan dan ucapan bahkan sikap yang menyebabkan orang lain terusik dan terganggu.
Barangkali, demikianlah yang dimaksud dengan sebuah pernyataan: Islam itu adalah kasih sayang untuk semua alam. Diantara kasih sayang itu adalah menyebarkan perdamaian untuk semuanya sehingga terjadilah keharmonisan sesama manusia secara khusus dan makhluq hidup secara umum, bahkan lingkungan di mana kita hidup. Maka, semestinya seorang beriman-islam menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan perpecahan yang justru menyebabkan retaknya keharmonisan, seperti ujaran kebencian, provokasi, dan lain-lain yang semuanya akan kita bahas

Pendalaman Q.S. Al-Hujurat: 10-13

Berikut adalah penjelasan sederhana mengenai Q. S. Al-Hujurat yang berkaitan dengan tips-tips untuk menjaga persatuan, kesatuan, ukhuwah dan keharmonisan sesama makhluq hidup.
Hal yang sangat penting untuk menjaga persatuan dan persaudaraan adalah dengan mencari persamaan-persamaan yang ada antasa seseorang dengan yang lainnya
Sebagaimana dikisahkan, ada seekor burung merpati dan seekor burung gagak. Keduanya terlihat sangat akrab seperti saudara, padahal keduanya berbeda jenis. Setelah diteliti, ternyata ada kesamaan yang menyebabkan keduanya begitu akrab seperti saudara, yaitu: kaki kedua burung itu sama-sama cacat.
Atau seperti tiga orang laki-laki yang mencintai seorang wanita yang sama. Semula, semuanya berlomba/bersaing untuk mendapatkan cinta si wanita. Namun, tatkala si wanita memilih salah satu dari ketiga lelaki itu, dua orang laki-laki yang tidak diterima cintanya itu terlihat akrab dan bersatu untuk sama-sama merusak hubungan cinta antara si wanita dan laki-laki pilihannya. Laki-laki yang patah hati itu semakin akrab seakan-akan mereka adalah saudara. Persatuan kedua laki-laki itu diakibatkan satu alasan yang sama, yaitu: sama-sama patah hati atau sakit hati
Jangan sampai kedua ilustrasi tersebut kita contoh. Masih ada persamaan-persamaan lain yang pantas dijadikan motivasi untuk merajut persatuan satu sama lain. Jangan sampai kita bersatu karena sama-sama cacat seperti burung itu atau sama-sama sakit hati seperti kedua laki-laki tadi. Jika demikian, maka persatuan kita bisa saja dikatakan: Barisan Sakit Hati. 
Lalu, apa saja persamaan yang dapat dijadikan motivasi pendorong untuk menjalin persatuan dan kesatuan?
Dalam Surat al-Hujurat ayat 10-13, ada tiga persamaan persaudaraan (ukhuwah) yang bisa dijadikan motivasi untuk menjalin persatuan dan kesatuan:


1. Ukhuwah Imaniyah wa Islaamiyah

Ialah persaudaraan yang disebabkan karena sama-sama mukmin dan muslim. Ini dibahas pada ayat 10 sampai ayat 12:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 
"Orang-orang mukmin itu hanyalah bersaudara, maka damaikanlah (perselisihan yang terjadi) di antara kalian. Bertaqwalah pada Allah, niscaya kalian diberi rahmat"
Ayat tersebut berkaitan dengan orang beriman, artinya ini mengenai hubungan mukmin dengan mukmin yang lain. Sehingga ayat ini dimulai dengan إنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إخْوَةٌ dan menggunakan kata إنَّما yang mana jika dalam ilmu balaghah, kata tersebut digunakan untk 'menghanyakan' (Qoshor). Maksudnya, mukmin dengan mukmin lain itu predikatnya tidak ada lagi kecuali 'hanya bersaudara' (seperti saudara kandung) sehingga tidaklah layak mukmin bertengkar, saling hina, saling ejek dengan mukmin yang lain. Namun, pada kenyataannya, pertengkaran dan pertikaian tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetap saja terjadi hal-hal seperti itu. Karena itulah lanjutan ayat berikutnya فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ, "damaikanlah (perselisihan, pertengkaran, pertikaian) di antara kalian". Lantas, apa yang seharusnya dijadikan landasan untuk berdamai?, harta?, tahta? atau apa?. 
Dalam merelai perselisihan antara sesama saudara seiman itu hendaklah dilandasi dengan sesuatu yang kokoh, bukan sesuatu yang rapuh (semu) seperti harta dan tahta. Apakah sesuatu yang kokoh itu?. Lanjutan ayat berikutnyalah jawabannya, yaitu: وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. "dan (dalam merelai perselisihan di antara kalian) bertaqwalah niscaya kalian diberi rahmat".
Rosul SAW sangat memerintahkan untuk menjaga persaudaraan ini, dengan sabda beliau:
ُالمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. بِحَسَبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِم
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tak boleh menganiaya (mendholiminya), menelantarkan / mengecewakannya, dan menghinanya. Cukuplah kejelekan seseorang  dengan menghina saudaranya yang muslim (sudah terlalu jelek sehingga tidak boleh melakukan kejelekan lain)"
Mari kita berkaca pada diri kita masing-masing. Masihkah kita menganiaya, menyakiti, mengecewakan, menghina, menelantarkan saudara kita yang muslim?. Dengan perbuatan-perbuatan tersebut, maka keharmonisan hubungan antara sesama muslim dan mukmin akan terganggu. Diantara perbuatan-perbuatan yang menjadi sebab keretakan hubungan antara sesama mukmin adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok (merendahkan) kaum lain, (karena) barangkali kaum yang diolok itu lebih baik dari kaum yang mengolok. Tidak boleh pula wanita mengolok wanita lain (karena) barangkali wanita yang diolok lebih baik daripada wanita yang mengolok. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan panggilan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"
Rincian ayat tersebut adalah sebagai berikut:
a. لَا يَسْخَرْ (Jangan mengolok-olok)
Kaum mukmin baik laki-laki maupun perempuan jangan mengolok / merendahkan mukmin lain karena kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya baik berkaitan dengan bentuk fisik, harta, kedudukan maupun yang lainnya. Hal ini agar terjagalah keharmonisan hubungan sesama mukmin dan muslim
b. وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ  (jangan mencela dirimu sendiri)

Maksud 'jangan mencela dirimu sendiri'  adalah dengan cara mencela orang lain. Sebab, pada hakikatnya, ketika seseorang mencela orang lain, sama saja dengan mencela dirinya sendiri. Kenapa? sebab yang dia cela adalah manusia yang sama diciptakan Sang Pencipta sama dengan dirinya. Maka, tatkala ia mencela orang lain, ia pun sebenarnya sedang mencela dirinya sendiri karena berkedudukan sama, yaitu makhluq Tuhan Sang Pencipta

Atau pengertian lain, dengan mencela orang lain, ia membuka jalan bagi orang lain untuk mencela dirinya
c. وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ (jangan memanggil dengan panggilan yang jelek)
Segala panggilan yang dirasa tidak enak di hati, maka itulah panggilan yang jelek. Apalagi dengan memanggil/melabeli seorang mukmin dengan panggilan / label 'fasiq / kafir'. Sebab, بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ, panggilan terjelek adalah panggilan 'fasiq' setelah beriman (setelah beriman sama dengan kafir/murtad). 
Kemudian, hal-hal yang dapat merobohkan persatuan dan persaudaraan sesama mukmin disebutkan dalam ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik akan hal itu. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang"
d. اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ (jauhi banyak prasangka jelek pada orang lain)
Memperbanyak berburuk sangka pada orang lain adalah salah satu sebab yang dapat menghancurkan tali persaudaraan dan persatuan, disamping hal itu dapat memperkeruh kejernihan hati orang yang berprasangka itu sendiri. Karena dengan berburuk sangka, akan timbullah hayalan-hayalan yang jauh dari kenyataannya yang justru hal itu menambah diri penyangka itu sendiri tersiksa. Sebagai mukmin, sebaiknya kita menjaga positive thinking. Jika kita memperbanyak berburuk sangka pada orang lain, maka mau tidak mau kita akan terjerat pada perbuatan selanjutnya, yaitu:
e. وَلَا تَجَسَّسُوا (jangan mencari-cari keburukan orang lain)
f. وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا (jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain)
Menggunjing / mengumpat adalah membicarakan kejelekan orang lain dari tempat yang tidak diketahui oleh orang yang dibicarakan. Objek pembicaraannya adalah perbuatan / kejelekan yang benar-benar ada pada diri orang yang dibicarakan, sedangkan jika tifak ada, maka itu namanya fitnah (tuduhan tanpa bukti). Menggunjing bisa diakibatkan karena terlalu banyak berprasangka buruk pada orang lain.
Itulah beberapa perbuatan yang dapat merusak keharmonisan hubungan antara sesama mukmin dan muslim.
Jika kita teliti lebih dalam, semua perbuatan itu, baik mengolok-olok, mencela orang lain, memanggil dengan panggilan yang jelek, banyak berburuk sangka, mencari-cari kesalahan dan menggunjing orang lain itu berasal dari perasaan benci (dislike). Karena kebencianlah seseorang menggunjing, mencaci maki, mengolok-olok, dan bahkan perbuatan-perbuatan lain yang lebih buruk dari itu semua bisa terjadi, yang mana hal itu sebenarnya merupakan penilaian yang tidak objektif bahkan sudah melakukan ketidak-adilan. Oleh karena itu, manusia tidak diperintahkan untuk mengawasi/menjaga atau menilai orang lain; وَمَا أُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حَافِظِيْنَ (Dan tidaklah mereka diutus untuk menjadi penjaga/pengawas/penilai bagi mereka). Alasannya karena manusia seringkali dipengaruhi oleh perasaan suka (like) dan tidak suka/benci (dislike). Ketika suka, maka yang akan timbul pujian, sanjungan dan perbuatan baik lainnya. Sebaliknya, ketika benci, maka yang akan timbul adalah perbuatan-perbuatan jelek yang sudah dirinci pada ayat 10-12 tadi. 
Inilah ayat tentang persaudaraan yang disebabkan adanya persamaan muslim dan mukmin Ukhuwah Imaniyah dan Islamiyah)

2. Ukhuwah Basyariyah

Ialah persaudaraan yang diakibatkan adanya sebuah persamaan yaitu: sama-sama manusia yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana dalam potongan ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan..."
Kali ini yang dipanggil adalah manusia secara umum, dengan panggilan: يَا أَيُّهَا النَّاسُ (wahai manusia). Berbeda dengan ayat sebelumnya. Ini mengisyaratkan bahwa selain persamaan dalam iman dan islam, masih ada persamaan yang menyebabkan seseorang bersaudara, yaitu: ukhuwah basyariyah. Yakni, sama-sama manusia yang diciptakan Allah berasal dari seorang laki-laki (Nabi Adam) dan seorang perempuan (Siti Hawa). Jadi, sebenarnya kita masih bersaudara ditinjau dari persamaan ini. Terlepas dari apakah dia mukmin atau bukan. Yang jelas, selama dia manusia, kita manusia, tak pantas kita memperlakukannya dengan perlakuan yang tidak wajar sebagai manusia. 

3. Ukhuwah Wathoniyah wa Sya'biyah

Ialah persaudaraan yang diakibatkan adanya persamaan satu negara / satu suku. Lanjutan potongan ayat 13 tadi:
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
"...dan kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal"
Ada istilah: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Inilah mengapa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia dan menjadikan kita memiliki suku dan bangsa (mencakup bahasa dan yang lainnya) yang berbeda. Tujuannya bukan لِتَبَاغَضُوْا, untuk saling membenci, melainkan لِتَعَارَفُوْا untuk saling mengenal. Dengan saling mengenal, akan terjalin hubungan emosional antara seseorang dengan yang lain, akhirnya terciptalah persaudaraan dan persatuan yang erat satu sama lain. Meskipun memang, yang paling mulia di hadapan Allah adalah orang yang paling bertakwa:
 إنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di hadapan Allah adala orang yang paling taqwa di antara kalian"
Inilah Ukhuwah yang seharusnya digunakan dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia. Dengan ketiga ukhuwah ini, seseorang akan banyak berfikir sebelum tangan (perbuatan) dan lidahnya (perkataan) menghina, mencaci, menyalahkan bahkan menyakiti orang lain. Karena sebelum menyakiti, dia akan memikirkan: "dia ini adalah saudara seiman saya/dia adalah saudara saya dari Nabi Adam dan Siti Hawa/dia adalah saudara saya sebangsa dan sesuku, tak pantaslah saya menyakitinya dengan perbuatan dan ucapan saya".

Apabila dalam berinteraksi denga orang lain, kita selalu menjadikan ketiga ukhuwah ini sebagai standar baku, maka pastilah akan terjalin hubungan interaksi yang sangat harmonis layaknya saudara kita sendiri dan kita akan berupaya memperlakukannya sebaik mungkin seperti pada saudara sendiri


Demikianlah artikel tentang Muslim itu bersaudara ini. Mohon maaf jika banyak kesalahan. Terima kasih dan semoga bermanfaat untuk kita semua

Wassalamu'alaikum wr. wb.

0 komentar

Posting Komentar